
Pertumbuhan kredit UMKM BPR gelagatnya mulai melambat. Apalagi porsinya pun sulit untuk bisa menembus angka 5%. Sementara, persoalan yang harus dihadapi BPR bukannya berkurang, malah terus bertambah. Tofik Iskandar
ADA gula ada semut, peribahasa yang sudah umum ini barangkali sangat klop menggambarkan hiruk-pikuk kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di industri perbankan nasional. Pasalnya, kini baik bank umum kelas berat, kelas menengah, kelas ringan, maupun bank akar rumput (grass roots) alias bank perkreditan rakyat (BPR), semuanya ramai-ramai menyemuti kue kredit UMKM.
Tak bisa dipungkiri bahwa rasa manis yang tak pernah hilang dari buah kredit UMKM merupakan pemikat kenapa bank-bank menjadi sangat suka mengerumuninya. Padahal, jauh sebelum kondisinya seperti saat ini, hanya BPR dan beberapa bank umum yang mau bercocok tanam di bisnis kredit UMKM. Lantaran mayoritas bank umum ketika itu lebih sudi dan lebih tertarik menyalurkan kredit untuk sektor korporasi ketimbang ke sektor UMKM.

BPR masih menyisakan peluang pembiayaan sekaligus margin keuntungan yang sangat besar. Tapi, BPR mesti berupaya maksimal untuk terus menggali ide di tengah persaingan ketat. BPR juga harus terus melakukan inovasi tiada henti. Edy Poernomo Santoso
BANK perkreditan rakyat (BPR) sebagai lembaga intermediasi keuangan mikro berada dalam kondisi yang kurang menguntungkan dengan masuknya bank-bank umum melalui divisi keuangan mikro sebagai pesaing, seperti Bank Danamon melalui Danamon Simpan Pinjam (DSP) dan Bank Tabungan Pensiunan Nasional (BTPN) melalui Mitra Usaha Rakyat (MUR). Padahal, secara kepemilikan, kedua bank tersebut telah dalam penguasaan asing, yaitu Temasek Holdings (Singapura) untuk Bank Danamon dan Texas Pacific Group (Amerika Serikat) untuk Bank BTPN.
Read the rest of this entry »

Kinerja BPR pada 2009 memang sedikit tertekan akibat krisis keuangan global. Tapi, dengan berbagai upaya perbaikan, BPR masih berpeluang untuk bangkit dan berkembang pada tahun depan.
SEGENAP pelaku bank perkreditan rakyat (BPR) pastinya ingin mencapai hasil kerja tahunan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tolok ukurnya adalah laba. Namun, persoalannya, selama 2009, BPR tampak kesulitan menggenjot pertumbuhan laba. Hal itu tercermin dari pencapaian laba BPR per Agustus 2009.
Read the rest of this entry »

JAKARTA. Perhumpunan Bank Perkreditan Rakyat (Perbarindo) meminta Bank Indonesia untuk melakukan pengawasan terhadap Bank Perkreditan Rakyat (BPR) sejak rencana pendirian BPR diajukan.
Hal ini dikatakan Ketua Umum Perbarindo Said Hartono menanggapi 18 BPR yang telah dilikuidasi oleh Lempaga Penjamin Simpanan (LPS).
Read the rest of this entry »

“Para bankir BPR jangan khawatir, akan kami jaga. Permodalan dan karyawan di BPR tetap harus milik Warga Negara Indonesia,” kata Deputi Direktur Direktorat Kredit BPR dan Usaha Mikro Kecil Menengah BI, Khairil Anwar, dalam seminar Menyongsong Peluang dan Tantangan Industri BPR Tahun 2010, di Jakarta, Senin (7/12).
Read the rest of this entry »















