profit-bank

Kinerja BPR pada 2009 memang sedikit tertekan akibat krisis keuangan global. Tapi, dengan berbagai upaya perbaikan, BPR masih berpeluang untuk bangkit dan berkembang pada tahun depan.

SEGENAP pelaku bank perkreditan rakyat (BPR) pastinya ingin mencapai hasil kerja tahunan yang lebih baik dari tahun sebelumnya. Tolok ukurnya adalah laba. Namun, persoalannya, selama 2009, BPR tampak kesulitan menggenjot pertumbuhan laba. Hal itu tercermin dari pencapaian laba BPR per Agustus 2009.

Kendati berhasil mencetak Rp737 miliar, nyatanya jumlah tersebut tidak lebih besar dari pencapaian pada Agustus 2008 yang sebesar Rp753 miliar. Alias, tidak tumbuh dengan persentase -2,12% secara year on year (yoy). Dan, trennya cenderung turun. Meski demikian, harus diakui bahwa laba BPR mengalami perbaikan yang signifikan, terutama kalau dicermati selama periode Maret hingga Agustus 2009.

Menurut Biro Riset Infobank (birI), faktor yang membuat BPR tertatih menumbuhkan laba, antara lain tingkat efisiensi BPR yang menurun. Pasalnya, indikator rasio biaya operasional terhadap pendapatan operasional (BOPO)-nya tampak merangkak naik. Pada Agustus 2009, misalnya. BOPO BPR naik menjadi 82,20%. Padahal, Agustus 2008, levelnya masih 78,69%.

Lalu, dari sisi kegiatan usaha, BPR juga mulai mengalami gejala penyakit ?sembelit?. Lihat saja pertumbuhan kreditnya pada Agusutus 2009 hanya tercatat 8,73% (yoy). Sedangkan, dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun BPR bertumbuh hingga 14,28% (yoy). Tak heran bila indikator loan to deposit ratio (LDR)-nya sejak Agustus 2008 sampai dengan Agustus 2009 bergerak begitu fluktuatif dengan kecenderungan menurun.

Walau kecenderungan pertumbuhan kre­dit melemah, aset BPR untungnya masih bisa tumbuh lebih baik. Paling tidak pada Agustus 2009 tumbuh 10,86% atau naik menjadi Rp34,76 triliun. Jumlah BPR dengan aset di atas Rp10 miliar juga meningkat dari 651 BPR pada Agustus 2008 jadi 742 BPR pada Agustus 2009. Sedangkan, jumlah BPR beraset di bawah Rp1 miliar turun dari 70 BPR menjadi 53 BPR.

Selain itu, pertumbuhan DPK yang positif dan terbilang cukup tinggi membuktikan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap BPR masih terjaga, meski komposisinya tak banyak berubah, yaitu mendominasinya sum­ber dana mahal ketimbang dana murah. Pangsa depositonya menjadi Rp16,09 triliun (68,22%) dan tabungan menjadi Rp7,49 triliun (31,78%).

Rendahnya daya serap tabungan sebenarnya dapat dimaklumi. Untuk menjaring dana murah, BPR harus bersaing ketat dengan bank umum. Sementara, masyarakat masih cenderung memilih bank umum yang dipandang lebih aman untuk menyimpan uang (flight to quality).

Lantas, bagaimana prediksi BPR pada 2010? Dari sisi tantangan pada 2010, menurut Biro Riset Infobank, tantangan utama BPR adalah masih harus mencari jalan keluar atas persoalan kredit yang pertumbuhannya cenderung melemah. Selain itu, BPR juga masih dihadapkan pada persoalan men­jinakkan BOPO.

Sedangkan, peluang pada 2010, BPR boleh dikatakan berpeluang cukup besar untuk tumbuh dan berkembang. Pasalnya, hingga Agustus 2009, BPR sudah menunjukkan daya tahan yang cukup baik dalam menangkal imbas krisis keuangan global. Dengan kata lain, BPR setidaknya sudah punya persiapan yang cukup siaga untuk menghadapi sejumlah tantangan tahun depan.

Daya tahan BPR terlihat dari tetap terjaganya beberapa indikator kinerja pokok BPR. Misalnya, capital adequacy ratio (CAR) yang tetap tinggi di angka 22,60% dan rasio return on asset (ROA) yang masih 3,18% Ini menunjukkan perbaikan kinerja BPR, mengingat rasio ROA pada awal triwulan I 2009 sempat negatif 9,74%. Begitu pula halnya dengan rasio non performing loans (NPL). Walau suhunya sempat tinggi pada awal tahun, yaitu 10,30%, trennya kini sudah menurun kembali dan relatif terjaga di level 7%. Tofik Iskandar

Sumber : INFOBANKNEWS