
Pertumbuhan kredit UMKM BPR gelagatnya mulai melambat. Apalagi porsinya pun sulit untuk bisa menembus angka 5%. Sementara, persoalan yang harus dihadapi BPR bukannya berkurang, malah terus bertambah. Tofik Iskandar
ADA gula ada semut, peribahasa yang sudah umum ini barangkali sangat klop menggambarkan hiruk-pikuk kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di industri perbankan nasional. Pasalnya, kini baik bank umum kelas berat, kelas menengah, kelas ringan, maupun bank akar rumput (grass roots) alias bank perkreditan rakyat (BPR), semuanya ramai-ramai menyemuti kue kredit UMKM.
Tak bisa dipungkiri bahwa rasa manis yang tak pernah hilang dari buah kredit UMKM merupakan pemikat kenapa bank-bank menjadi sangat suka mengerumuninya. Padahal, jauh sebelum kondisinya seperti saat ini, hanya BPR dan beberapa bank umum yang mau bercocok tanam di bisnis kredit UMKM. Lantaran mayoritas bank umum ketika itu lebih sudi dan lebih tertarik menyalurkan kredit untuk sektor korporasi ketimbang ke sektor UMKM.
Namun, dengan terjadinya krisis moneter 1997 dan terjadinya krisis keuangan global 2008 telah memakan banyak korban dari sektor korporasi sehingga bank-bank umum tampaknya mulai menyadari dan memahami betul akan makna dari peribahasa ?gajah di pelupuk mata tidak terlihat, semut di seberang lautan terlihat?. Apalagi satu demi satu bank umum mulai yakin menurunkan jangkar kreditnya di sektor UMKM.
Sebut saja Bank Danamon dengan Danamon Simpan Pinjam (DSP)-nya, Bank BTPN dengan Mitra Usaha Rakyat (MUR)-nya, Citibank dengan Citifinansial-nya, atau HSBC dengan Pinjaman HSBC-nya. Selain itu, bank umum yang sudah menjadi pemain lama di kredit UMKM seperti Bank Rakyat Indonesia (BRI), Bank Bukopin, bank Mandiri juga tak mau kalah. Mereka terus menggenjot kredit UMKM-nya.
Makin banyaknya bank umum yang mau membuka tangannya untuk kredit UMKM ini, memang di satu sisi berati peluang 50 juta lebih pengusaha UMKM mendapatkan kredit untuk pengembangan usahanya menjadi semakin besar. Peluang itu bahkan kian bertambah gadang dengan adanya lembaga keuangan nonbank seperti PT PNM yang meluncurkan Unit Layanan Modal Mandiri (ULAMM)-nya.
Selain itu, suku bunga kredit UMKM dengan sendirinya tentu akan mengerucut sejalan dengan bertambahnya lembaga keuangan yang menyalurkan kredit UMKM. Sebab, itu sudah menjadi hukum pasar. Tambah pemain artinya persaingan akan menjadi tambah ketat. Persaingan ketat sejatinya akan menggiring suku bunga ke batas wajar.
Meski demikian, dalam kondisi pasar yang sudah menjelma seperti itu, faktanya tidak jarang terjadi yang namanya persaingan tidak sehat. Entah itu perang tarif yang membuat ada saja lembaga keuangan yang terkadang menjadi nekat mematok bunga kredit rendah tanpa mengindahkan faktor risiko, terjadi bajak-membajak karyawan dengan cara yang tidak lumrah, dan alokasi kredit semakin mengarah ke sektor konsumtif.
Untuk itu, peran Bank Indonesia (BI) sebagai regulator perbankan dalam hal ini tentunya sangatlah vital. Pasalnya, untuk urusan menata, mengatur, menertibkan, khususnya di industri perbankan, semuanya berada di tangan BI.
Nah, bagaimana potret perkembangan kredit UMKM di perbankan (bank umum dan BPR) hingga saat ini? Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia per September 2009 yang dirilis BI dan diolah kembali oleh Biro Riset Infobank (birI), kredit UMKM tampaknya tetap terus bertumbuh dengan peningkatan yang signifikan. Baik dilihat dari sisi year on year (yoy) maupun year to date (ytd).
Adapun peningkatan kredit UMKM industri perbankan per September 2009 dari September 2008 adalah sebesar Rp82,21 triliun atau tumbuh 12,71% (yoy). Sementara, peningkatan secara ytd?nya sebesar Rp69,39 triliun atau tumbuh 10,52%. Dengan demikian, pencapaian kredit UMKM perbankan per September 2009 naik menjadi Rp728,81 triliun.
Lantas, apakah porsi BPR di dalam kredit UMKM hingga periode tersebut mengalami kenaikan? Kalau berkaca dari hasil data yang diolah Biro Riset Infobank berdasarkan data BI tadi, tampaknya BPR mengalami sedikit banyak kesulitan untuk mendongkrak porsinya. Sebab, porsi BPR hingga periode tersebut hanya mencapai 3,76% atau menurun jika dibandingkan porsi pada akhir Desember 2008 ataupun porsi pada September 2008, yang masing-masingnya mencapai 3,86% dan 3,97%.
Padahal, kredit UMKM BPR per September 2009 mengalami pertumbuhan jika dicermati dari sisi yoy maupun ytd, yaitu sebesar 6,75% dan 7,71% atau naik menjadi Rp27,43 triliun. Tetapi, sayangnya, pertumbuhan dan kenaikan kredit UMKM BPR ini tampaknya memang tak cukup kuat dan kurang besar untuk bisa mengangkasakan porsinya.
Laju pertumbuhan melambat dan porsi menyusut pada kredit UMKM BPR ini menandakan bahwa ruang gerak BPR boleh jadi kian terdesak dengan ekspansi bank umum di area usahanya. Dari sisi jumlah kantor, misalnya. Selama hampir lima tahun terakhir ini (Desember 2004-September 2009), jumlah kantor bank umum telah bertambah sebanyak 4.677 kantor atau naik menjadi 12.616 kantor. Sementara, jumlah kantor BPR dalam periode yang sama malah menyusut menjadi 3.454 kantor atau menurun sebanyak 53 kantor.
Artinya, BI di satu sisi memang harus diakui berhasil dalam meningkatkan penetrasi kredit UMKM melalui bank umum. Salah satunya melalui kebijakan yang memudahkan izin operasional pembukaan cabang bagi bank umum.
Tapi di sisi lain, kondisi tersebut membuat kondisi BPR menjadi bak pepatah ?gajah bertarung pelanduk mati di tengah?. Atau dengan kata lain persaingan antara bank-bank umum?terutama yang bagong-bagong?dalam memperebutkan kue kredit UMKM mengakibatkan kondisi BPR menjadi kian terjepit.
Sementara, tekad BPR untuk mengembangkan sayapnya sudah seperti layu sebelum berkembang, lantaran BPR mendapat kesulitan dalam pendirian kantor-kantor cabang. Karena itu, tidak heran jika BPR satu per satu terus bertumbangan karena di antaranya usahanya mengalami kesulitan untuk bernapas.
Lalu, bagaimana dengan kredit UMKM bank asing dan campuran yang menjadi pesaing terdekat BPR dalam saling kejar pencapaian kredit UMKM? Perkembangan kondisinya mungkin secara umum lebih kurang serupa dengan yang dialami BPR, yaitu porsinya per September 2009 dibandingkan dengan September 2008 sama-sama mengalami penurunan.
Namun, perbedaannya, penurunan porsi kredit UMKM bank asing dan campuran tidak sedalam yang dialami BPR. Sebab, pertumbuhan kredit UMKM bank asing dan campuran baik secara yoy maupun ytd-nya tak bisa dipungkiri mampu tumbuh lebih besar daripada BPR.
Selain itu, penurunan porsi kredit UMKM bank asing dan campuran juga lebih mudah diketahui penyebabnya, yaitu akibat kredit mikronya yang secara yoy dan ytd ternyata perolehannya menurun sebesar 1,87% dan 3,10%. Alhasil, pencapaian kredit mikro bank asing dan campuran per September 2009 turun menjadi Rp11,83 triliun.
Sementara untuk kredit mikro BPR sendiri, yang disayangkan datanya belum ada di dalam Statistik Perbankan Indonesia yang dirilis BI. Dengan demikian, belum bisa diketahui secara pasti bagaimana gambarannya. Sesuatu yang hanya bisa dipastikan adalah pertumbuhan kredit UMKM-nya tumbuh melambat.
Sumber : INFOBANKNEWS

















Leave a comment